POST-TRAUMATIC STRESS DISORDER (PTSD) PADA TOKOH UTAMA DALAM ANIME 火垂るの墓 (HOTARU NO HAKA) KARYA ISAO TAKAHATA

No. Klas  :  00000162/SKR
Pengarang  :  SITI SABI’A
Penerbit  :  FAKULTAS ILMU BUDAYA, SURABAYA, 2024
N.I.M  :  -
Pembimbing  :  -
Kolasi  :  -
Digital Copy  :  5
Pinjaman Aktif  :  0
Synopsis

 :  Psikologis manusia memiliki ragam bentuk respons yang berbeda saat mengalami suatu peristiwa. Salah satunya adalah peristiwa traumatis. Peristiwa traumatis yang dialami individu dapat memicu adanya stres sehingga menyebabkan munculnya Post-Traumatic Stress Disorder (PTSD). Anime 火垂るの墓 (Hotaru no Haka) karya Isao Takahata menceritakan tentang tokoh utama bersaudara yang bernama Seita dan Setsuko menunjukkan gejala PTSD dikarenakan peristiwa traumatis perang antar negara yang menyebabkan kematian keluarganya. Penelitian ini menggunakan pendekatan psikologi sastra dengan tinjauan teori PTSD dalam DSM-5 yang diterbitkan oleh American Psychological Association (APA). Permasalahan yang diangkat ialah mengenai kriteria diagnostik peristiwa traumatis dan gejala PTSD pada tokoh utama Seita dan Setsuko. Metode penelitian yang digunakan adalah deskriptif kualitatif dengan teknik pengumpulan data melalui studi kepustakaan dan dokumentasi teks yang diambil dari dialog dan monolog, serta tangkapan layar sebagai penguat untuk mengungkapkan hasil penelitian yang dipaparkan dalam bentuk kata. Kriteria diagnostik peristiwa traumatis dan gejala PTSD dibedakan menjadi dua rentang usia yang berbeda yaitu di bawah 6 tahun dan di atas 6 tahun. Hasil penelitian yang ditemukan pada tokoh utama Seita yang berusia 12 tahun pada kriteria diagnostik peristiwa traumatis telah mengalami perang dan kematian keluarga yang beruntun yang menjadi penyebab munculnya gejala PTSD berupa gejala intrusi, penghindaran, perubahan negatif dalam kognisi, serta perubahan gairah dan reaktivitas. Sedangkan tokoh utama Setsuko yang berusia 4 tahun telah mengalami kriteria diagnostik peristiwa traumatis yang sama yaitu perang dan kematian orang tuanya. Hal tersebut membuat Setsuko mengalami gejala PTSD berupa gejala intrusi, perubahan negatif dalam kognisi, serta perubahan gairah dan reaktivitas.